Kalau membaca perjalanan Simon Petrus, saya justru melihat sebuah cara pandang yang menarik tentang manusia dan talenta. Petrus tidak dipanggil Yesus karena ia sudah menjadi manusia yang matang. Ia hanyalah seorang nelayan. Ia berani, tetapi sering gegabah. Cepat mengambil keputusan, tetapi tidak selalu tepat. Ia bisa berjalan di atas air, tetapi beberapa saat kemudian tenggelam karena ketakutannya sendiri. Ia bisa menjadi orang pertama yang mengakui bahwa Yesus adalah Mesias, tetapi pada kesempatan lain justru menegur Yesus karena tidak memahami jalan salib. Bahkan setelah bertahun-tahun berjalan bersama Yesus, ketika situasi menjadi sulit, Petrus menyangkal-Nya tiga kali. Kalau menggunakan ukuran organisasi yang hanya berorientasi pada kesiapan dan pencapaian jangka pendek, mungkin Petrus bukanlah kandidat yang paling menjanjikan.

Tetapi Yesus tampaknya tidak melihat manusia hanya dari apa yang mampu ia lakukan hari ini. Yesus melihat apa yang mungkin menjadi dirinya di kemudian hari. Di situlah saya melihat perbedaan antara sekadar menempatkan orang pada sebuah jabatan dengan benar-benar melakukan manajemen talenta. Kalau orientasi kita hanya pada target jangka pendek, maka kita akan cenderung mencari orang yang paling siap pakai: kompetensinya sudah ada, pengalamannya sudah cukup, risikonya kecil, dan bisa langsung menghasilkan. Tidak ada yang salah dengan itu. Tetapi ketika manusia dipandang sebagai capital organisasi, pertanyaannya menjadi lebih jauh. Bukan hanya “apa yang bisa orang ini berikan kepada organisasi sekarang?”, tetapi juga “menjadi apa orang ini jika kita investasikan waktu, kepercayaan, pengalaman, pembinaan, dan kesempatan kepadanya?”

Petrus adalah contoh yang menarik karena Yesus tidak menunggu sampai Petrus selesai dibentuk untuk kemudian mempercayainya. Justru proses pembentukan itu terjadi setelah ia dipanggil. Petrus diberi kesempatan untuk belajar melalui pengalaman, diberi ruang untuk mengambil keputusan, melihat keberhasilan, mengalami kegagalan, bahkan ditegur ketika salah. Ketika Petrus berjalan di atas air, ia belajar tentang iman dan keberanian. Ketika ia menyatakan bahwa Yesus adalah Mesias, ia belajar bahwa dirinya mampu memahami sesuatu yang besar. Ketika ia salah memahami jalan salib dan ditegur, ia belajar bahwa keberanian saja tidak cukup tanpa pemahaman. Ketika ia tertidur di Getsemani, ia belajar tentang kelemahan dirinya sendiri. Dan ketika akhirnya ia menyangkal Yesus, ia berhadapan dengan kegagalan yang mungkin paling menyakitkan dalam hidupnya. Namun anehnya, bagi Yesus, kegagalan itu bukan akhir dari investasi terhadap Petrus.

Setelah kebangkitan, Yesus tidak datang kepada Petrus untuk mengatakan, “Saya sudah salah memilihmu.” Yesus justru datang dengan pertanyaan yang sangat sederhana tetapi sangat dalam: “Apakah engkau mengasihi Aku?” Tiga kali pertanyaan itu diberikan, seolah-olah berhadapan langsung dengan tiga kali penyangkalan Petrus. Tetapi setelah setiap jawaban, Yesus memberikan kepercayaan: “Gembalakanlah domba-domba-Ku.” Di sini saya melihat bahwa pemulihan Petrus bukan sekadar pengampunan atas kesalahan masa lalu. Ada sebuah proses pengembalian kepercayaan dan sekaligus pemberian tanggung jawab. Petrus yang pernah gagal tidak dibuang dari perjalanan; justru pengalaman kegagalannya menjadi bagian dari proses yang membentuknya menjadi pemimpin yang lebih matang.

Dan hasilnya kita tahu. Petrus yang pernah takut kepada manusia kemudian berdiri di hadapan orang banyak pada hari Pentakosta. Petrus yang pernah menyangkal kemudian menjadi orang yang berani memberitakan Kristus. Petrus yang dahulu masih belajar memahami panggilannya kemudian menjadi salah satu figur penting dalam gereja mula-mula. Jadi nilai Petrus tidak berhenti pada talenta yang ia miliki ketika pertama kali ditemukan. Nilainya justru berkembang melalui investasi yang dilakukan kepadanya. Dari Simon si nelayan, kita melihat proses panjang menuju Petrus sang pemimpin. Karena itu, saya kira manajemen talenta versi Yesus bukan sekadar menemukan orang yang tepat untuk ditempatkan pada posisi yang tepat. Lebih dari itu, ia adalah proses menemukan potensi, membentuk karakter, memberikan kesempatan, membiarkan seseorang belajar, mengoreksi ketika salah, memulihkan ketika jatuh, dan kemudian memperbesar kepercayaan seiring dengan bertumbuhnya kapasitas.

Di titik ini, saya rasa kurang tepat jika kisah Petrus hanya kita kaitkan dengan pengangkatan seseorang menjadi pejabat atau penempatan seseorang pada posisi tertentu demi pencapaian organisasi dalam jangka pendek. Jabatan hanyalah salah satu konsekuensi dari proses pengembangan, bukan tujuan akhirnya. Kalau manusia hanya dilihat sebagai resource untuk memenuhi kebutuhan organisasi hari ini, maka nilai seseorang akan mudah diukur dari output dan posisi yang sedang ia duduki. Tetapi jika manusia dilihat sebagai organizational capital, maka organisasi memiliki tanggung jawab untuk meningkatkan nilai dari manusia itu sendiri. Setiap penugasan, setiap proyek, setiap kesalahan, setiap coaching, bahkan setiap kesempatan memimpin, seharusnya menjadi bagian dari investasi yang membuat kapasitas seseorang bertumbuh.

Mungkin karena itu, dalam manajemen talenta, pertanyaan yang lebih penting bukan hanya siapa orang terbaik yang kita miliki hari ini. Pertanyaannya adalah siapa yang memiliki potensi untuk menjadi jauh lebih besar daripada dirinya hari ini, dan apakah kita bersedia menginvestasikan sesuatu untuk membantunya sampai ke sana. Orang yang hari ini masih membutuhkan banyak arahan mungkin beberapa tahun lagi menjadi orang yang membimbing orang lain. Orang yang hari ini belum percaya diri mengambil keputusan mungkin suatu hari menjadi pengambil keputusan yang penting. Bahkan orang yang hari ini melakukan kesalahan mungkin sedang mengumpulkan pengalaman yang kelak membuatnya mampu mencegah orang lain melakukan kesalahan yang sama.

Petrus mengajarkan bahwa talenta tidak selalu hadir dalam bentuk manusia yang sudah jadi. Kadang talenta hadir dalam bentuk seorang nelayan yang masih impulsif, masih mudah takut, masih sering salah, tetapi memiliki sesuatu yang belum sepenuhnya terlihat. Tugas seorang pemimpin bukan hanya menemukan orang yang sudah hebat, tetapi mampu melihat nilai yang belum selesai dan kemudian berani berinvestasi di dalamnya. Karena itu, manajemen talenta pada akhirnya bukan sekadar tentang bagaimana organisasi mendapatkan manfaat dari manusianya, tetapi juga tentang bagaimana organisasi membuat manusia itu sendiri menjadi lebih bernilai.

Mungkin itulah yang saya sebut sebagai manajemen talenta versi Yesus. Yesus tidak sekadar menggunakan talenta Petrus untuk menyelesaikan pekerjaan pada hari itu. Yesus mengembangkan Petrus untuk sebuah perjalanan yang jauh lebih panjang daripada satu jabatan, satu target, bahkan satu generasi. Ia tidak hanya melihat apa yang bisa Petrus lakukan sekarang, tetapi melihat siapa Petrus yang dapat dibentuk melalui proses. Dan mungkin pertanyaan yang sama layak kita bawa ke dalam organisasi: bukan hanya “apa yang bisa orang ini berikan kepada organisasi hari ini?”, tetapi “menjadi siapa orang ini jika kita benar-benar mau berinvestasi kepadanya?”

Sebab pada akhirnya, manusia bukan sekadar resource yang dipakai untuk mencapai target.

Manusia adalah capital yang nilainya dapat terus bertumbuh ketika kita bersedia menginvestasikannya