Perayaan Natal selalu identik dengan sukacita, cahaya lampu yang berkelap-kelip, dan kehangatan berkumpul bersama keluarga. Namun, menjelang perayaan Natal tahun 2025, suasana kebatinan jemaat Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) diajak untuk merenung lebih dalam. Melalui pesan yang penuh empati, Ephorus HKBP, Oppui Victor Tinambunan, memberikan arahan strategis yang menggeser fokus perayaan dari kemeriahan lahiriah menuju kedalaman spiritualitas dan solidaritas sosial.
Seruan ini muncul bukan tanpa alasan, melainkan sebagai respons terhadap berbagai bencana alam dan kesulitan yang melanda banyak saudara sebangsa di tanah air. Ephorus menegaskan bahwa Natal tahun ini harus menjadi momentum refleksi kolektif. Gereja dipanggil untuk tidak menutup mata terhadap penderitaan sesama, melainkan menjadikan altar gereja sebagai tempat menaikkan doa-doa yang tulus bagi pemulihan mereka yang terdampak bencana.
Inti dari instruksi tersebut adalah pelaksanaan ibadah yang bersahaja. Perayaan yang biasanya diwarnai dengan pesta pora atau acara seremonial yang megah, kini diharapkan bertransformasi menjadi kebaktian yang khidmat. Fokus utamanya adalah pada liturgi dan pelayanan firman, di mana setiap ayat yang dibacakan dan setiap kidung yang dinyanyikan menjadi ungkapan keprihatinan sekaligus harapan bagi para korban.
Kesederhanaan ini sebenarnya membawa kita kembali pada esensi Natal yang sesungguhnya. Jika kita menilik kembali kisah kelahiran Yesus di kandang domba yang hina, tidak ada kemewahan di sana. Natal sejati adalah tentang kehadiran Allah yang menyapa manusia dalam kerendahan hati, sebuah pesan yang sangat relevan untuk dihidupi oleh jemaat HKBP di tengah situasi sulit saat ini.
Selain aspek ibadah, Ephorus juga menaruh perhatian serius pada etika digital jemaat. Di era media sosial yang serba terbuka, seringkali dokumentasi kemeriahan yang berlebihan dapat menjadi pisau bermata dua. Beliau mengimbau agar tidak ada unggahan yang menampilkan pesta mewah atau hidangan berlimpah yang dapat melukai perasaan mereka yang saat ini kehilangan tempat tinggal atau sedang berjuang untuk sekadar makan.
Imbauan ini merupakan langkah preventif untuk menjaga perasaan para korban bencana. Menahan diri dari pamer kemewahan di ruang digital adalah bentuk empati yang sangat nyata. Dengan membatasi dokumentasi yang bersifat hura-hura, gereja menunjukkan bahwa rasa sakit yang dirasakan oleh satu anggota tubuh Kristus juga dirasakan oleh anggota lainnya.
Lebih jauh lagi, solidaritas ini tidak boleh berhenti pada tataran perasaan saja. Ephorus mendorong setiap gereja di bawah naungan HKBP untuk mengupayakan aksi nyata melalui bantuan diakonal. Kasih yang selama ini dikhotbahkan harus termanifestasi dalam bentuk bantuan materiil maupun moril sesuai dengan kemampuan masing-masing jemaat.
Wujud nyata solidaritas gereja melalui diakonia ini menjadi bukti bahwa iman Kristen adalah iman yang bergerak. Gereja diharapkan mampu menjadi penyalur berkat bagi mereka yang membutuhkan, memastikan bahwa dana yang biasanya dialokasikan untuk dekorasi megah dapat dialihkan untuk membantu pemulihan ekonomi atau kesehatan para korban bencana.
Setiap jemaat, dari tingkat pusat hingga pelosok, diajak untuk melihat sekeliling mereka. Apakah ada tetangga atau saudara yang sedang kesulitan? Natal 2025 menjadi ajang untuk membuktikan bahwa gereja bukan sekadar gedung, melainkan sebuah komunitas yang memiliki kepedulian sosial yang tinggi dan peka terhadap isu-isu kemanusiaan.
Transformasi perayaan Natal ini juga menjadi pelajaran berharga bagi generasi muda gereja. Dengan meniadakan pesta yang berlebihan, anak-anak dan remaja diajarkan bahwa kebahagiaan Natal tidak terletak pada baju baru atau hadiah mahal, melainkan pada kemampuan untuk berbagi beban dengan orang lain yang sedang berduka.
Pesan dari Oppui Victor Tinambunan ini sekaligus menjadi pengingat akan peran profetik gereja. Gereja harus berani mengambil sikap yang berbeda dengan tren dunia yang seringkali mementingkan konsumerisme. Memilih untuk diam dan berdoa dalam kesederhanaan adalah sebuah pernyataan iman yang kuat di tengah kebisingan dunia.
Liturgi yang disusun untuk Natal 2025 diharapkan dapat merangkul tema-tema pemulihan dan pengharapan. Melalui doa syafaat yang panjang dan mendalam, jemaat diajak untuk merasakan penderitaan para pengungsi dan mereka yang kehilangan orang terkasih, sehingga tercipta ikatan batin yang kuat antar sesama ciptaan Tuhan.
Kita perlu menyadari bahwa solidaritas adalah inti dari ajaran kasih. Tanpa solidaritas, perayaan agama hanyalah rutinitas tanpa makna. Dengan mengikuti arahan Ephorus, HKBP sedang berupaya mengembalikan makna "Immanuel" yang berarti Allah beserta kita—Allah yang hadir di tengah penderitaan dan memberikan kekuatan untuk bangkit.
Tantangan terbesar tentu saja adalah mengubah kebiasaan lama yang sudah berakar. Banyak jemaat mungkin sudah terbiasa dengan perayaan yang meriah sejak jauh-jauh hari. Namun, melalui pendekatan pastoral yang lembut namun tegas, perubahan paradigma ini diharapkan dapat diterima sebagai bentuk ketaatan iman dan penghormatan terhadap kemanusiaan.
Dukungan dari para pelayan gereja di tingkat lokal sangat krusial dalam menyosialisasikan kebijakan ini. Pendeta, penatua, dan pengurus kategorial harus menjadi teladan dalam mempraktikkan hidup sederhana selama masa Natal, sehingga jemaat merasa terinspirasi untuk melakukan hal yang sama di lingkungan keluarga masing-masing.
Tidak ada yang dikurangi dari sukacita Natal itu sendiri, karena sukacita sejati datangnya dari hati yang damai. Kesederhanaan justru memberikan ruang bagi Tuhan untuk bekerja lebih leluasa di dalam hati manusia, tanpa terdistraksi oleh atribut-atribut duniawi yang seringkali mengalihkan fokus kita dari Sang Bayi Natal.
Ke depannya, pola perayaan seperti ini diharapkan bisa menjadi refleksi berkelanjutan bagi gereja. Bagaimana gereja tetap relevan dan responsif terhadap dinamika sosial yang terjadi di sekitarnya. Natal tidak boleh menjadi menara gading, melainkan harus menjadi jembatan kasih yang menghubungkan jurang antara si kaya dan si miskin.
Seiring dengan berjalannya waktu menuju Desember 2025, mari kita persiapkan hati untuk menyambut Natal yang berbeda. Natal yang mungkin lebih sunyi secara suara, namun lebih riuh dalam doa. Natal yang mungkin tidak mewah dalam hidangan, namun sangat kaya dalam berbagi kasih kepada mereka yang sedang merintih karena bencana.
Solidaritas yang dibangun oleh HKBP ini adalah lilin kecil di tengah kegelapan duka bangsa. Jika setiap gereja melakukan hal yang sama, maka cahaya lilin itu akan menjadi terang besar yang memberikan kehangatan bagi seluruh negeri. Inilah misi sejati gereja: menjadi garam dan terang yang benar-benar dirasakan manfaatnya oleh lingkungan sekitar.
Sebagai penutup, mari kita dukung dan laksanakan seruan Ephorus HKBP ini dengan penuh sukacita. Kiranya Natal 2025 menjadi tonggak sejarah baru bagi HKBP dalam menunjukkan wajah gereja yang rendah hati, penuh empati, dan berdiri teguh dalam solidaritas bersama para korban bencana. Selamat mempersiapkan Natal dalam kesederhanaan dan kasih yang tulus.
No comments yet. Be the first to share your thoughts!